Masjid Agung Kraton Surakarta pada masa pra-kemerdekaan adalah masjid agung milik kerajaan dan berfungsi selain sebagai tempat ibadah juga sebagai pusat syiar Islam bagi warga kerajaan. Masjid Agung Surakarta, dahulu masjid ini bernama Masjid Ageng Keraton Hadiningrat dan dibangun oleh Pakubuwono III pada sekitar tahun 1749. Terletak di sekitar Alun-alun Utara Keraton Surakarta, tepatnya di bagian barat, masjid ini memiliki posisi penting dalam penyebaran Agama Islam di Solo. Masjid Agung Surakarta ini berlokasi di Great Mosque Street No.1, Kauman, Kec. Ps. Kliwon, Kota Surakarta, Jawa Tengah 5712.

Sampai saat ini, Masjid Agung Surakarta masih menjadi pusat tradisi Islam di Keraton Surakarta. Masjid ini masih menjadi tempat penyelenggaraan berbagai ritual yang terkait dengan agama, seperti sekaten dan maulud nabi, yang salah satu rangkaian acaranya adalah pembagian 1.000 serabi dari raja kepada masyarakat.

Di sisi Selatan Masjid ini terdapat sebuah benda seperti tugu yang disebut dengan Jam Istiwak atau nama lainnya disebut Jam Matahari. Dahulu kala jam ini membantu untuk menentukan waktu dzuhur pada siang hari. Cara kerja dari jam ini terdapat Busur Cekung dan Besi berwarna perak. Pada busur cekung, terdapat angka-angka. Di atasnya terdapat besi panjang dengan sebuah paku yang melintang di tengahnya. Saat cuaca cerah, paku pada jam istiwak akan membuat bayangan yang jatuh pada angka tertentu. Angka itulah yang yang menunjukkan waktu zuhur. Begitulah Jam Istiwak ini bekerja untuk menunjukan waktu sholat dzuhur.

Jam Istiwak atau Jam Matahari ini sangat mengandalkan cahaya matahari sehingga hanya dapat digunakan pada siang hari. Jam ini sudah berusia ratusan tahun namun tetap kokoh dan terawat. Jam Istiwak ini merupakan daya Tarik wistawan agar berkunjung ke Masjid Agung Surakarta.

Jika kita hubungkan dengan sejarah munculnya jam tangan dan jam dinding sebelum ada teknologi seperti sekarang ini, orang-orang jaman dahulu menentukan waktu siang dan malam melalui sebuah jam matahari (Sundial). Jam matahari pertama kali digunakan sekitar 3.500 tahun sebelum Masehi. Jam ini menunjukkan waktu berdasarkan pada posisi matahari. Caranya, dengan memanfaatkan bayangan yang jatuh pada permukaan datar yang kemudian ditandai dengan jam-jam dalam satu hari. Mungkin ketika masa sekolah pernah dilakukan praktek penggunaan jam dengan bantuan cahaya matahari. Seperti itulah penentuan waktu pada jaman dahulu.

Seiring perkembangan jaman, jam mulai ditemukan mulai dari jam saku hingga di abad ke-16 berupa “jam lengan” pemberian Robert Dudley kepada Ratu Elizabeth I dari Inggris. Meskipun banyak perdebatan tentang pencipta jam tangan yang pertama kali adalah Abraham-Louis Breguet yang membuat jam untuk Caroline Murat, saudari Napoleon dan ratu Napoli. Begitulah kisah dari sejarah jam matahari bila dikaitkan dengan penggunaan jam pada teknologi modern seperti sekarang.

TIK-TOK Watch Repair adalah one-stop solution bagi pecinta jam tangan di Indonesia. TIK-TOK Watch Repair menyediakan service perbaikan jam tangan seperti, poles, overhaul service, battery replacement, cleaning dan pergantian spareparts.

TIK-TOK Watch Repair memiliki outlet di Surakarta tepatnya di Solo yang berlokasi di Solo Paragon Mall (Lt LG – 15) tepatnya di Jl. Yosodipuro No.133, Mangkubumen, Banjarsari, Kota Surakarta, Jawa Tengah 57139. Bagi pencinta jam tangan yang berada di wilayah Surakarta, Solo dapat mengunjungi outlet kami di Solo Paragon Mall untuk konsultasi permasalahan jam tangan Anda. Kami akan berusaha membantu kebutuhan jam tangan Anda. Untuk layanan konsultasi online dapat juga menghubungi kami melalui WhatsApp : +6287720689623.

Leave a comment

Open chat
1
Hi,

You will be connected to TIK-TOK Watch Repair customer service.

Please click the button below to have a direct WhatsApp chat with us.

------------------

Hi,

Anda akan terkoneksi dengan customer support kami dari TIK-TOK Repair

Silahkan gunakan tombol di bawah ini untuk memulai chat.