Zinédine Zidane dikenal sebagai legenda sepak bola Prancis yang memiliki ketertarikan terhadap dunia jam tangan. Kecintaannya terhadap timepiece juga tercermin melalui koleksi pribadi yang dikumpulkannya sepanjang hidup. Sekitar 35 tahun lalu, ketika bermain untuk Bordeaux, Zidane membeli Cartier Pasha pertamanya. Jam tersebut menjadi proper watch pertama yang dibelinya dan memiliki cerita personal bagi sang legenda.

Cartier Pasha itu hadir ketika Zidane sedang menjalani salah satu periode penting dalam perjalanan kariernya. Saat itu, perjalanan profesionalnya bersama Bordeaux menjadi bagian penting sebelum namanya semakin dikenal dunia. Karena itu, Cartier Pasha tersebut tidak sekadar menjadi aksesori yang menemani aktivitasnya. Jam tangan tersebut juga menjadi pengingat terhadap salah satu fase awal perjalanan hidup Zidane.

Cartier Pasha Pertama Zinédine Zidane yang Penuh Kenangan

Zidane

Zinédine Zidane dikenal sebagai legenda sepak bola Prancis sekaligus pencinta jam tangan. Ketertarikannya terhadap horologi terlihat dari koleksi timepiece yang dikumpulkannya sepanjang hidup. Sekitar 35 tahun lalu, saat bermain untuk Bordeaux, Zidane membeli Cartier Pasha pertamanya. Saat itu, Cartier Pasha menjadi proper watch pertama yang dibeli Zidane untuk dirinya sendiri.

Bagi Zidane, Cartier Pasha tersebut memiliki hubungan erat dengan salah satu periode penting dalam perjalanan hidupnya. Jam tangan ini menemaninya ketika karier sepak bolanya mulai berkembang di level profesional. Setelah menyimpannya selama puluhan tahun, Zidane akhirnya memutuskan untuk melepas timepiece yang memiliki nilai sentimental tersebut. Keputusan ini sekaligus membuka babak baru dalam perjalanan Cartier Pasha miliknya.

Cartier Pasha tersebut kini akan dilelang melalui Christie’s dalam acara Watches for ELA. Lelang amal tersebut akan berlangsung di Jenewa pada 9 November 2026. Hasilnya akan mendukung misi ELA International dalam membantu penderita leukodystrophy. Bagi Zidane, pelelangan ini menjadi cara untuk memberikan makna baru pada jam tangan bersejarah tersebut.

Cartier Pasha dan Daya Tarik Desainnya bagi Zidane

Cartier Pasha memiliki daya tarik tersendiri bagi Zinédine Zidane ketika pertama kali melihatnya. Desainnya yang membulat menjadi salah satu elemen yang membuat jam tersebut terasa berbeda. Bentuk case dan sejumlah detailnya mengingatkan Zidane pada bentuk bola yang dekat dengan kehidupannya. Karakter visual tersebut membuat Cartier Pasha terasa personal sejak pertama kali dimilikinya.

Selain bentuknya, Zidane juga tertarik dengan detail desain Cartier Pasha yang terlihat khas. Round pushers pada bagian case memberikan karakter unik sekaligus memperkuat kesan membulat pada jam tersebut. Bracelet-nya juga dianggap modern untuk ukuran desain pada masa itu. Perpaduan berbagai elemen tersebut membuat Cartier Pasha memiliki tampilan yang tetap menarik bagi Zidane.

Bagi Zidane, sebuah jam tangan bukan sekadar alat untuk menunjukkan waktu. Sebuah timepiece juga dapat menjadi karya seni yang memiliki daya tarik visual dan emosional. Ketika desain mampu membangkitkan perasaan tertentu, jam tersebut dapat memiliki makna lebih dalam bagi pemiliknya. Pandangan inilah yang membuat Cartier Pasha pertamanya tetap menjadi timepiece yang begitu berarti bagi Zidane.

Dari Bordeaux hingga Disimpan Selama 35 Tahun

Sejak pertama kali dibeli, Cartier Pasha terus menemani perjalanan hidup Zinédine Zidane. Jam tangan tersebut kemudian disimpan dan dijaga dengan hati-hati selama sekitar 35 tahun. Selama periode tersebut, Cartier Pasha menjadi bagian dari berbagai fase kehidupan Zidane. Perjalanan panjang itu membuat jam tersebut memiliki cerita yang jauh lebih personal.

Nilai sebuah jam tangan tidak selalu ditentukan oleh harga, kelangkaan, atau statusnya sebagai luxury timepiece. Bagi Zidane, Cartier Pasha memiliki sentimental value karena menyimpan kenangan dari masa penting dalam hidupnya. Jam tersebut mengingatkannya pada periode ketika karier profesionalnya bersama Bordeaux mulai berkembang. Karena itu, nilai personalnya menjadi bagian penting dari cerita Cartier Pasha tersebut.

Sebuah timepiece dapat menjadi penanda momen yang melekat pada perjalanan pemiliknya. Setiap kali dikenakan atau disimpan, jam tangan dapat membawa kembali kenangan dari periode tertentu. Cartier Pasha milik Zidane menjadi contoh bagaimana sebuah jam dapat menyimpan cerita selama puluhan tahun. Kini, cerita tersebut akan berlanjut melalui pemilik baru setelah dilelang untuk tujuan amal.

Cartier Pasha Zinédine Zidane Dilelang untuk Watches for ELA

Watches for ELA menjadi ajang yang mempertemukan dunia horologi dengan tujuan kemanusiaan. Pada 9 November 2026, Cartier Pasha pertama milik Zinédine Zidane akan ditawarkan melalui. Lelang tersebut berlangsung di Jenewa sebagai bagian dari Rare Watches auction. Acara ini juga menghadirkan sekitar 20 timepiece istimewa yang didonasikan berbagai watch brand dan independent watchmaker.

Keputusan Zidane melepas Cartier Pasha tersebut memiliki makna emosional yang kuat. Ia membeli jam tersebut dengan gaji pertamanya ketika bermain untuk Bordeaux sekitar 35 tahun lalu. Setelah menyimpannya selama puluhan tahun, Zidane memilih menjadikannya bagian dari dukungannya terhadap ELA International.

Hasil lelang nantinya akan disalurkan untuk mendukung ELA International dan perjuangannya bagi keluarga terdampak leukodystrophy. Dengan demikian, Cartier Pasha ini memiliki tujuan yang lebih besar daripada sekadar transaksi sebuah luxury watch. Timepiece yang menjadi bagian perjalanan pribadi Zidane kini dapat membantu membuka babak baru bagi mereka yang membutuhkan.

Dukungan Zinédine Zidane untuk ELA International

Hubungan Zinédine Zidane dengan ELA International telah berlangsung selama lebih dari 25 tahun. Ia pertama kali bertemu pendiri ELA, Guy Alba, pada 2000. Pertemuan tersebut menjadi awal dari dukungan panjang Zidane terhadap organisasi tersebut. Sejak saat itu, Zidane aktif mendukung berbagai upaya ELA dalam membantu keluarga yang terdampak leukodystrophy.

ELA International berfokus pada leukodystrophy, yaitu kelompok penyakit genetik langka yang menyerang sistem saraf pusat. Kondisi tersebut dapat memengaruhi fungsi neurologis dan memberikan dampak besar bagi pasien serta keluarganya. Melalui berbagai programnya, ELA berupaya meningkatkan pemahaman mengenai penyakit tersebut. Dukungan terhadap penelitian juga menjadi bagian penting dalam perjuangan organisasi ini.

Watches for ELA menjadi salah satu bentuk kolaborasi antara dunia horologi dan misi kemanusiaan ELA International. Hasil dari kegiatan tersebut digunakan untuk mendukung penelitian dan membantu keluarga yang terdampak leukodystrophy. Acara ini juga membantu meningkatkan awareness terhadap penyakit langka tersebut. Melalui Cartier Pasha miliknya, Zidane turut membawa pesan kemanusiaan tersebut kepada komunitas horologi.

Melepas Jam Tangan dengan Nilai Sentimental

Berpisah dengan Cartier Pasha pertamanya tentu membawa emosi tersendiri bagi Zinédine Zidane. Jam tersebut telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya selama sekitar 35 tahun. Selama periode tersebut, Cartier Pasha menyimpan berbagai kenangan dari salah satu fase penting kehidupannya. Karena itu, keputusan untuk melepasnya bukanlah sesuatu yang dilakukan tanpa pertimbangan.

Namun, keputusan tersebut bukan berarti Cartier Pasha telah kehilangan arti bagi Zidane. Sebaliknya, ia melihat lelang ini sebagai kesempatan untuk memberikan makna baru pada timepiece tersebut. Jam yang selama puluhan tahun menjadi bagian dari hidupnya kini dapat memberikan manfaat bagi orang lain. Melalui Watches for ELA, cerita personal tersebut juga dapat mendukung tujuan kemanusiaan.

Nilai sebuah jam tangan dapat berkembang ketika cerita di baliknya diteruskan kepada pemilik berikutnya. Cartier Pasha Zidane tidak hanya membawa desain dan sejarah kepemilikan yang menarik. Timepiece tersebut juga membawa kisah perjalanan seorang legenda sepak bola dan kepeduliannya terhadap ELA. Setelah lelang berlangsung, cerita tersebut akan memasuki babak baru bersama pemilik berikutnya.

Koleksi Jam Tangan Zinédine Zidane

Zinédine Zidane menyebut dirinya memiliki sekitar 15 hingga 20 jam tangan yang dikumpulkan sepanjang hidupnya. Jumlah tersebut menunjukkan ketertarikannya terhadap horologi tanpa menjadikannya sebagai kegiatan mengoleksi secara berlebihan. Zidane mengaku tidak membeli jam tangan hanya karena ingin menambah koleksi. Baginya, setiap timepiece harus memiliki alasan personal yang membuatnya benar-benar tertarik.

Dalam memilih sebuah jam, Zidane lebih mengandalkan perasaan daripada pertimbangan yang terlalu rumit. Ia mengatakan bahwa sebuah jam harus memiliki sesuatu yang menarik dan mampu memberikan resonansi secara personal. Ketertarikan tersebut dapat muncul secara spontan ketika sebuah desain atau objek terasa istimewa baginya. Filosofi ini juga terlihat dari Cartier Pasha yang dibelinya sekitar 35 tahun lalu.

Bagi Zidane, sebuah jam tangan pada dasarnya merupakan karya seni yang dipilih karena mampu membangkitkan perasaan tertentu. Ia bahkan menggambarkan proses memilih jam seperti cinta pada pandangan pertama. Karena itu, nilai sebuah timepiece tidak hanya terletak pada merek, harga, atau kelangkaannya. Pengalaman emosional yang muncul ketika melihat dan memilikinya justru menjadi bagian penting dari nilai personal sebuah jam.

Cartier Pasha sebagai Bagian dari Perjalanan Hidup Zidane

Cartier Pasha menjadi salah satu timepiece yang merepresentasikan fase penting dalam perjalanan hidup Zinédine Zidane. Jam tersebut dibelinya sekitar 35 tahun lalu ketika Zidane masih bermain untuk Bordeaux. Saat itu, Cartier Pasha menjadi proper watch pertama yang dibelinya menggunakan penghasilannya sendiri. Kini, jam yang sama menjadi pengingat perjalanan panjangnya dari pemain muda hingga legenda sepak bola dunia.

Dalam dunia koleksi jam tangan, provenance atau cerita kepemilikan dapat memberikan dimensi tambahan pada sebuah timepiece. Cartier Pasha milik Zidane memiliki sejarah personal yang kuat karena pernah menjadi bagian dari kehidupannya selama puluhan tahun. Cerita tersebut membuat jam ini tidak hanya menarik dari sisi desain, tetapi juga memiliki hubungan langsung dengan perjalanan salah satu pesepak bola paling dikenal. Provenance seperti ini dapat membuat sebuah timepiece memiliki karakter yang berbeda dibandingkan jam dengan spesifikasi serupa.

Melalui lelang Watches for ELA, Cartier Pasha tersebut akan memasuki babak baru bersama pemilik berikutnya. Pemilik baru nantinya tidak hanya mendapatkan sebuah timepiece dengan sejarah menarik. Mereka juga akan membawa bagian dari cerita Zidane yang telah melekat pada jam tersebut selama sekitar 35 tahun. Dengan tujuan amal di balik pelelangan, perjalanan Cartier Pasha ini akan berlanjut dengan makna yang lebih besar.

Dari Timepiece Pribadi Menjadi Jam Tangan untuk Amal

Keputusan Zinédine Zidane melelang Cartier Pasha pertamanya menghadirkan cerita yang lebih besar dari sebuah transaksi jam tangan. Timepiece tersebut mempertemukan horology, celebrity provenance, sentimental value, dan philanthropy dalam satu kisah. Jam yang awalnya dibeli untuk penggunaan pribadi kini memiliki tujuan kemanusiaan. Perjalanan tersebut membuat Cartier Pasha semakin menarik bagi komunitas horologi dan kolektor.

Watches for ELA menunjukkan bagaimana sebuah timepiece dapat membawa cerita jauh melampaui fungsi dan nilai materialnya. Provenance Zidane memberikan dimensi personal yang membuat jam tersebut memiliki sejarah kepemilikan yang kuat. Sementara itu, tujuan amal memberikan makna baru terhadap keputusan untuk melepasnya. Setiap elemen tersebut menjadikan Cartier Pasha bukan sekadar luxury watch.

Pada akhirnya, Cartier Pasha ini membawa perjalanan panjang dari kehidupan pribadi Zidane menuju sebuah misi kemanusiaan. Selama sekitar 35 tahun, jam tersebut menjadi bagian dari berbagai fase penting dalam kehidupannya. Kini, melalui lelang, cerita tersebut dapat diteruskan sekaligus memberikan manfaat bagi orang lain. Inilah yang membuat sebuah timepiece mampu memiliki nilai yang melampaui material dan fungsi dasarnya.

Ketika Jam Tangan Menjadi Bagian dari Sebuah Cerita

Zinédine Zidane

Jam tangan sering kali menyimpan cerita yang melekat pada perjalanan pemiliknya. Cartier Pasha milik Zinédine Zidane menjadi contoh bagaimana sebuah timepiece dapat merekam kehidupan selama puluhan tahun. Setelah menjadi jam tangan pertama sang legenda, Cartier Pasha tersebut kini memasuki babak baru melalui lelang amal. Kisah ini menunjukkan bahwa sebuah jam tangan dapat memiliki makna jauh melampaui fungsi dasarnya.

Nilai sebuah jam tangan tidak selalu berada pada material, merek, atau harga yang dimilikinya. Cerita kepemilikan dan kenangan yang melekat dapat membuat sebuah timepiece terasa jauh lebih personal. Seperti Cartier Pasha Zidane, setiap goresan dan perjalanan pemakaian dapat menjadi bagian dari sejarah pemiliknya. Karena itu, menjaga kondisi timepiece menjadi penting agar cerita tersebut dapat terus menemani perjalanan berikutnya.

Hal serupa juga menjadi perhatian TIK-TOK Watch Repair dalam menangani berbagai timepiece milik pelanggan. Perawatan berkala membantu menjaga kondisi jam agar tetap dapat digunakan dan menyimpan cerita lebih lama. Bersama TIK-TOK Watch Repair, perawatan dapat disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan timepiece Anda. TIK-TOK Watch Repair siap membantu menjaga jam tangan kesayangan agar tetap menemani berbagai momen berharga.

Leave a comment

Open chat
1
Hi,

You will be connected to TIK-TOK Watch Repair customer service.

Please click the button below to have a direct WhatsApp chat with us.

------------------

Hi,

Anda akan terkoneksi dengan customer support kami dari TIK-TOK Repair

Silahkan gunakan tombol di bawah ini untuk memulai chat.